Marleykun (Part Telu)

Cerita sebelumnya:

Dalam kondisi penuh masalah, ternyata Marleykun tetap saja seorang playboy cap kerbau gila, sruduk sana-sruduk sini. Bu Mariyam sampai harus menjewernya saat si Marleykun ketahuan menggoda Veni. Namun, kondisi memusingkan ini tidak membuat Marleykun berhenti bekerja demi mencari segepok uang dengan berjualan baju di Pasar Kliwon. Naluri ke-bapak-an-nya juga masih kuat. Ia begitu merindukan Wiwi – putri kesayangannya. Inilah sisi baik Marleykun. Ibarat keping uang logam, ada sisi baik dan jahat dalam dirinya.

***

“Uhuuiy… Laris manis, Mas!” seru Pak Kribo – pedagang nasi rames yang sedang mengantarkan makan siang buat Marleykun – nasi putih, buntil kuah pedas, telur ngglondong masak kecap, plus es teh.

“Alhamdulillah, Pak!” jawab Marleykun sumringah sembari menyerahkan selembar uang lima ribuan.

“Loh, Mbakayune ngendi, Mas? Lah, sampeyan kok dhewekan?” tanya si Pak Kribo.

“Lagi ke rumah mertua, Mas! Biasa, kangen sama bapak simboknya…” jawab Marleykun enteng.

“Ohh.. Yo wis maturnuwun. Jangan lupa, misscall aku nek sampeyan wis rampung! Nanti piring gelasnya biar kuambil,” kata Pak Kribo sembari berlalu menuju warungnya lagi.

“Oke, Boss!’ jawab Marleykun ceria.

Namanya juga jaman handphone, Pak Kribo yang rambutnya beneran kribo itu menjalankan sistem delivery order di warungnya. Bebas ongkir lho! Ketik ngelih banget/nama/nomor kios/pesanan, kirim ke 085292019123. Contoh : ngelih banget/Marleykun/B-20/nasi buntil telur dan es teh.

Nyam, nyam, nyammmm… Marleykun menikmati makan siangnya. Tiba-tiba terdengar bunyi “thit thit thit thit”. Ada sms masuk. Marleykun merogoh HP di saku kemejanya. Wajah Marleykun langsung ceria saat mengetahui  sms-nya dari Laila. Usai membaca sms, ia menarik nafas panjang.

“Mas, Wiwi nangis terus pengen ketemu sampeyan,” begitu bunyi sms Laila.

“Yuhuuuu!” seru Marleykun sambil menyuapkan nasi ke mulutnya dengan gembira.

***

Sorenya, setelah mampir ke rumah sebentar untuk menyerahkan titipan Maknya, Marleykun segera meluncur ke rumah mertuanya. Beberapa macam oleh-oleh sudah dibawanya: martabak manis kesukaan Laila, jeruk mandarin, dan beberapa kardus makanan bayi.

Sesampainya di rumah mertua, tampak Bu Kartinah dan Pak Basuki –orangtua Laila – sedang duduk santai di teras. Marleykun gemetaran demi melihat mereka berdua. Rasanya dunia mau runtuh saja. Pak Basuki terkenal tegas mendidik anak-anaknya.

“Assalammu’alaikum, Pak, Bu!” sapa Marleykun santun.

“Wa’alaikumsalam…” jawab Bu Kartinah dan Pak Basuki bersamaan. Ramah.

“Wis kono, Wiwi selak kangen kae…” Bu Kartinah menyuruh Marleykun masuk.

Marleykun heran. Mertuanya tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.

“Nggih, Bu!” jawab Marleykun sembari menyerahkan oleh-oleh, “Saya membawa sedikit jeruk dan martabak, Ibu… Monggo dipundhahar… Kula mlebet riyen nggih…!”

Marleykun langsung tersenyum saat Wiwi terlihat menyambutnya dengan ceria… Wiwi langsung dipeluk dan diciumnya. Sementara Laila diam saja.

“Uh, Wiwi cayanggg… Kangen bapak, nggih?” kata Marleykun sembari menggendong Wiwi.

Wiwi tertawa senang. Ada senyum tipis yang tersungging di bibir Laila.

“Aku nginep kene ya, Dek!” kata Marleykun membuka pembicaraan dengan Laila yang sedari tadi terdiam.

“Terserah,” jawab Laila datar.

Marleykun akhirnya menginap di rumah mertuanya. Tidur di kamar tamu, Laila tidak mau tidur sekamar dengannya.

“Nasib, nasib…!” jerit Marleykun dalam hati.

***

Paginya, Marleykun pamit untuk pergi berdagang seperti biasanya.

“Mau pergi ke Semarang lagi, Nak?” tanya Bu Kartinah. Marleykun nggak mudeng.

Laila buru-buru menjawab, “Nggih Mak, Mas Likun badhe tindak teng Semarang malih. Pameran kerajinanipun dugi dinten ahad ngenjing.”

“Apa, Dek?” Marleykun menatap Laila. Bingung.

Laila menginjak kaki Marleykun sambil memberikan isyarat lewat tatapannya. Hmmm, ternyata Laila tidak menceritakan pertengkaran itu. Marleykun lega.

***

“Wah, seger nemen Mas! Lagi okeh rejeki sajake!” seru Pak Kribo sambil mengantarkan makan siang seperti biasanya.

“Alhamdulillah, Pak!” jawab Marleykun ramah.

Lagi enak-enaknya makan siang, terdengar HP-nya berbunyi “thit-thit-thit-thit”. Wajah Marleykun langsung sumringah. “Pasti dari Laila!” batin Marleykun sambil senyam-senyum.

“Mas, aku butuh duit 300.000. Aku ning ngarep Pasar Kliwon, cerak apotek. Aku moro rono, opo sampeyan sik rene?” Sendernya Ina. Nafsu makan Marleykun hilang seketika.

“Edan tenan iki, Ina soyo ra nggenah ae!” batin Marleykun. Pedagang di seantero pasar sudah mengenal Laila sebagai istrinya. Marleykun nggak mau nama baiknya tercemar.

Setelah menitipkan dagangannya kepada pedagang kios sebelah, Marleykun segera menuju apotek.

***

Ina tampak begitu cantik siang ini. Ia mengenakan rok selutut dan atasan kaos “you can see”. Rambutnya yang halus dibiarkan terurai. Ia semakin manis dengan bandana kain warna putih bercampur biru yang dipakainya. Feminin, itulah Ina.

Marleykun sedikit senang melihat Ina yang terlihat begitu manis di matanya. Tadi sewaktu masih di kios, Marleykun sudah merancang kata-kata: “In, mulai saiki, dhewe wis ra ono hubungan opo-opo meneh. Aku njaluk tulung karo sampeyan. Melas anak karo bojoku yen hubungane dhewe tetep lanjut.”

Tapi, yang keluar dari mulutnya jauh berbeda: “Manis banget sampeyan, Dek!” Marleykun menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan. Selingkuh pun butuh modal ternyata. Selanjutnya, mereka makan bakso di warung dekat apotek. Marleykun, Marleykun….!

“Jare wis emoh ketemu aku?” tanya Ina iseng.

“Kepekso,” jawab Marleykun.

Ina cuma mesem. “Mengko bengi dolan ning omahku, Mas!” katanya.

Marleykun juga mesem. Mesem-mesum. Lagi-lagi Marleykun melupakan anak-istrinya. Mendadak amnesia!

***

Malam, pukul 22.00. Rumah Ina selalu saja sepi setiap jam segini. Bapak, simbok dan kedua adiknya sudah tidur.

Marleykun menenteng kardus martabak telur dan dua plastik wedang jahe.

Ina mengenakan baby doll warna pink. Usianya baru menginjak dua puluh satu tahun. Riasan tipis menghiasi wajahnya yang tetap saja terlihat ayu meski hanya mengenakan baby doll.

Selanjutnya tidak perlu diceritakan lagi. Yang pasti, Marleykun baru pulang keesokan harinya. Sebelum berangkat ke pasar, dia menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. Marleykun juga memberi uang saku kepada Panji dan Pandu, kedua adik Ina yang masih duduk di bangku kelas satu SMA.

Marleykun pamitan kepada Bapak dan Simboknya Ina, lalu segera meluncur ke pasar.

Setelah mobil Marleykun menghilang di pertigaan kampung, Ina menghela nafas. Berat dan panjang.

“Mbak, aku kudu mbayar SPP dino iki…” kata Pandu memohon.

Ina buru-buru mengambil dompetnya. Pandu dan Panji masing-masing mendapat Rp 225.000,00. SPP si kembar Panji dan Pandu sudah menunggak tiga bulan. Bapak dan simboknya tidak mempunyai uang untuk melunasinya. Bapaknya sakit-sakitan sejak tiga tahun lalu, sementara penghasilan simboknya sebagai pengrajin emping mlinjo tidaklah mencukupi kebutuhan mereka.

Selama dua tahun ini, Ina memang banyak bergantung kepada Marleykun. Ah tidak juga, Ina bergantung kepada banyak lelaki yang menjadi pacarnya…

Ina tersenyum melihat kedua adiknya pergi ke sekolah dengan bahagia. “Untung aku berhasil membuat Mas Marley kembali ke sini. Jika tidak, aku harus turun ke jalan semalam. batin Ina perih.

Ternyata Marleykun selingkuh dengan seorang pelacur belia!

***

Bersambung

Marleykun (part loro)

Cerita sebelumnya :

Marleykun benar-benar stress. Istrinya ngambek, pulang ke rumah orang tuanya. Si kecil Wiwi – anaknya – juga diajak. Sementara itu, Ina – selingkuhan Marleykun – malah jadi mirip teroris. Belum lagi ditambah masalah kecil sehari-hari yang terus saja terjadi. Lengkap sudah penderitaan Marleykun.

>>>

“Hueeeekkk!” Marleykun merasa isi perutnya – nasi putih, jangan bayem, ndhog mata kebo, susu kambing liar – mau keluar. Bau kotoran ayam diare memang tidak diragukan lagi kedahsyatannya – bisa juga dijadiin senjata biologi ne, gantiin virus antrax. Bu Mariyam hanya menonton dari kejauhan sambil ikut-ikutan menutup hidung pake tangan. Dengan perasaan tak menentu, Marleykun mengambil daun kering yang bertebaran di kebun pisang samping rumah. Habis dibersihkan pake daun, Marley mengambil selang dan mulai mencuci bagian depan mobilnya dengan air dan sedikit sabun colek. Ayam-ayam terlihat cekikikan melihat Marleykun malang.

Tapi, entah kenapa, mata Marleykun tiba-tiba berubah ceria, seyum pun tersungging di bibirnya yang agak item karena kebanyakan merokok. Bau busuk bekas kotoran ayam berganti dengan bau harum semerbak tercium oleh hidungnya yang lumayan mancung. Marleykun seolah terbang ke taman bunga nan indah mewangi. Ngopo ki? Apakah Marleykun telah menjadi gila?

Hmmmm, ternyata ada Veni – tetangga Marleykun – sedang melenggang anggun di depannya. Si Veni memang udah kesohor di seantero kampung. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, bentuk badannya juga bagus. Gaya berpakaiannya yang cenderung “berani” membuat mata setiap kaum Adam melotot. Seperti pagi ini, Veni mengenakan celana pendek di atas lutut dan kaos ketat “you can see”.

“Suit, suiiiiiiiiiit….! Ceweekkk…!” seru Marleykun menggoda.

Veni mesam-mesem tahu dirinya digoda. “Apa Mas Marley….?”

“Kau cantik hari ini… dan aku suka…” goda Marley dengan nyanyian. Si Veni makin seneng dibilang cantik.

“Ah, Mas Marley bisa aja…” kata Veni ganjen. Si Marley makin “melek” aja liat si Veni makin ganjen dan bertingkah manja.

“Mau ke mana, Dek?” tanya Marley.

“Mau ke pasar, Mas?” jawab Veni. Dia menghentikan langkahnya sejenak.

“Kok, jalan kaki, Dek?” tanya Marley lagi sambil menggosok mobilnya.

“Anu Mas… Motornya lagi dipinjam Mbak Yati, ngambil raport anaknya. Eh, sampai sekarang malah belom pulang,” jelas Veni sambil tersenyum manis.

“Kalau gitu, nanti bareng aku aja, Dek! Bentar lagi aku juga berangkat kok…,” Marleykun menawarkan diri.

“Loh, Mas Marley kan jualan di Pasar Kliwon… Aku mau ke Pasar Legi e…,” kata Veni.

“Kebetulan, nanti aku mau ke Pasar Legi dulu… Sekalian mau mampir beli sesuatu…,” Marleykun masih berusaha.

“Wah, jadi ngrepotin…,” kata Veni tersenyum malu.

“Gak pa-pa, daripada Dek Veni panas-panas di bus? Kasihan, nanti cantiknya ilang…,” kata Marleykun sambil senyum-senyum. “Yes, berhasil!” sorak Marleykun dalam hati.

Wreng… wrenggg….! Marleykun baru aja mau naruh selang dan lap yang barusan dipake saat sebuah motor cowok lewat dan berhenti tepat di depan Veni. Si pengendara mencopot helmnya. Angin lembut seolah meniup poni rambut Veni dan jantung Veni pun berdetak lebih kencang. Si pengendara motor itu adalah Marianto – cowok idaman di kampung mereka.

“Wah, Mas Ian mau ke mana?” tanya Veni dengan senyum mengembang. Batinnya girang.

“Mau ke Pasar Legi. Adek mau ke mana?” tanya Ian alias Marianto dengan tersenyum pula. Siapa juga yang nggak bakalan senyum kalau ketemu sama Veni, si kembang desa.

“Aku juga mau ke sana, Mas…,” kata Veni lagi. Kali ini senyumnya lebih lebar.

“Bareng, yukk! Minjem helmnya Mas Marley aja…,” usul Ian.

Senyum Veni mengembang, lantas mengangguk dan memanggil Marleykun.

“Mas Marley, boleh ndak aku minjem helmmu? Aku ndak jadi nebeng mobilmu! Aku bareng Mas Ian aja, ya!” kata Veni enteng.

Marleykun mlongo, kecewa berat. Ayam-ayam tambah cekikikan.

***

Nah, tingkah polah Marleykun yang lagi godain Veni tadi ternyata tidak luput dari perhatian Bu Mariyam yang lantas jadi super duper geram. Saat Veni dan Marianto melaju, Bu Mariyam udah siap-siap standby di teras, berdiri berkacak pinggang lantas berseru, “Likuuuuuuuunnnnn, kesini! Mak mau ngomong!”

Marleykun pun segera tersadar dari perasaan kecewanya, lantas buru-buru menuju ke Maknya. Selanjutnya, Marleykun meringis kesakitan, “Adoooooohhhhhhh, ampun Maaakkkk!” Yes, Bu Mariyam menjewer telinganya!

“Lupa kalau masalahmu dengan istri dan anakmu belum selesai? Eeee, malah godain gadis ganjen kaya Veni… Awas kalau ketahuan kayak gitu lagi! Nggak cuma kupingmu yang Mak jewer!” ancam Bu Mariyam.

Ayam-ayam yang lagi pada nyantai di halaman rumah Marleykun nggak cuma ngikik lagi, tapi tertawa ngakak, puas melihat Marleykun dijewer Emaknya.

***

Sampai di Pasar Kliwon, Marleykun segera membuka kios bajunya. Dia menata barang dagangannya dengan rapi. Inilah kelebihan Marleykun, orangnya serba rapi dan bersih. Dari kejauhan kiosnya sudah kelihatan menarik. Marleykun juga tergolong rajin dan cekatan. Dan yang pasti, Marleykun orangnya super ramah, alhasil sebagian besar pedagang di seantero pasar sudah mengenalnya.

Marleykun memperhatikan baju anak-anak yang tergantung rapi di sisi kanan kiosnya. Spontan saja dia jadi keingetan sama Wiwi, anaknya.

“Huffft…” Marleykun menghela nafas, “Bapak kangen, Wi!” katanya pelahan. Sinar matanya mulai mengharu. Marleykun selalu saja nggak mampu menahan kerinduannya dengan sang putri tercinta. Kejadian tiga hari yang lalu saat bertengkar dengan Laila – istrinya – terngiang kembali.

“Kamu masih berhubungan sama Ina, to Mas?” seru Laila setengah berteriak setelah tanpa sengaja mengangkat panggilan di hape Marleykun, telpon dari Ina.

“Ono opo to, Dek! Teko-teko nesu koyo ngono… Kae lho, Wiwi pengen maem…,” kata Marleykun gugup.

“Halah, Mas ora usah mengalihkan perhatian! Aku mau wis omong-omongan sedhelo karo Ina. Jarene sampeyan iseh seneng ngubungi dheweke. Aku wis ngomyang Ina. Tapi, jare Ina iki salahe Mas. Mas pancen ora duwe roso syukur wis duwe aku karo Wiwi!” Laila marah besar.

“Dek, iki mung salah paham….” Marleykun panik.

“Mbiyen sampeyan wis janji bakal ninggalake Ina. Tapi opo, malah sampeyan dhewe sik ngubungi Ina meneh. Sampeyan pancen ora duwe pikiran! Ora mesakake aku karo Wiwi!” seru Laila. Kemarahannya membara.

“Tenan Dek, aku wis ora ono hubungan opo-opo meneh karo Ina. Sumpah, Dek!” seru Marleykun.

Wiwi menangis mendengar kedua orangtuanya bertengkar. Laila buru-buru menyuapinya dengan biskuit bayi. Wiwi nggak mau menelan biskuitnya. Laila akhirnya menyusui si kecil sambil marah-marah.

“Sampeyan pancen ora duwe ati!” seru Laila. Matanya merah, hampir menangis.

Sesaat setelah Wiwi tidur di pelukan, Laila mengambil tas bayi dan mengisinya dengan popok, bedak, dan sehelai selendang. Dengan amarah yang masih meluap, Laila berjalan menggendong Wiwi keluar rumah lalu berjalan ke arah gerbang kampung – tempat angkot lewat. Marleykun berusaha mengejar istrinya dengan mobil, namun Laila tetap  berjalan kaki, diam seribu bahasa. Laila lantas naik bus menuju rumah kedua orang tuanya. Marleykun pusing.

“Mas-mas, pagi-pagi kok melamun!” Seorang calon pembeli membuyarkan lamunan Marleykun.

“Eh, iya Mbak!’ kata Marleykun kaget. “Beli apa, Mbak? Silakan dipilih!” Marleykun menawarkan dagangannya dengan ramah.

Marleykun menghirup nafas panjang, lantas mengeluarkannya bersama kesedihan yang ikut serta memenuhi setiap alveolus dalam paru-parunya.

“Saya mau beli dasternya, Mas!” kata pembeli itu lagi.

“Oh iya, Mbak… Tuh banyak pilihannya. Warnanya cantik-cantik, kainnya juga adhem di kulit. Cuma Rp 60.000,00 lho, Mbak… Boleh kurang dikit…” kata Marleykun lagi. Ramah. Marleykun memang berbakat menjadi pedagang.

***

Marleykun (part siji)

Jeblung, jeblung! Byuuurrrrr! Sogggg, soggggg, sogggg!

“Ngopo to, Nang? Lha wong nguras bak mandi kok koyo orang kesetanan gitu?” tanya Bu Mariyam melihat Likun – anak lanangnya – yang sedang nyemplung di bak mandi nan besar lagi lumutan di belakang rumah mereka.

Ne bak mandi setelah diperhatikan dan direnungi malah cocok banget kalau dipake buat miara ikan – besar banget, kira-kira ukuran 2 x 1,5 x 1,25 meter, dari batu bata yang diplester pake semen – tanpa embel-embel kolase keramik. Pak Yasin – Bapaknya Likun – sengaja tuh bikin bak mandi raksasa, bukannya biar bisa mandi air panas rame-rame sekeluarga, tapi biar mereka nggak kehabisan cadangan air bersih buat mandi, nyuci, pup, dan pip coz aliran air dari PDAM sering mati kalau siang hari, ngalirnya seringnya pagi, sore, dan malam aja… Paling parah hari Jumat, kadang airnya baru ngalir lagi ba’da Isya, bau kaporit lagi… Kalau air di bak penampungan habis, alamat musti ngungsi ke tetangga jika mau ambil air wudhu buat sholat Maghrib.

“Emosi jiwa aku, Mak!” jawab Marleykun – panggilan sayang dari teman-temannya.

“Emosi leh ngopo? Kuwi lho, lumute durung resik!” seru Bu Mariyam sambil berdiri di tepian bak mandi. Nonton acara “Marleykun Ngoras the Bath Up” secara live.

Sogggg soggggg! Marleykun masih nyikat dinding bak yang warnanya item ke-ijo-an sampai nyiprat-nyiprat ke mukanya. Kata Ki Joko Bodho, “Marleykun, Anda cocok bekerja di tempat basah…”

“Lho, ditakoni kok meneng wae?” Bu Mariyam masih penasaran.

Marleykun baru saja mau putar balik badan, tapi tiba-tiba…. Shaeeeed…. Buoggg…! Dia terpeleset lantas terjerembab – pantatnya duluan – ke lantai kamar mandi.

“Alaiyung, Maaakkkk! Sial nemen aku!” Marleykun meringis kesakitan.

Bu Mariyam malah mrenges, “Nha, ngono kuwi contone, mulane nek ditakoni Mak ke ndang njawab… Ora malah njegideg wae…”

“Oh, teganya dirimu Mak…!” ratap Marleykun dalam hati.

Marleykun senasib sama Marley Kundang rupanya. Kualat.

***

Thit thit thit thit… Hapenya Marleykun berbunyi. Ada sms masuk. Marleykun yang lagi nonton dangdut koplo di rumah tetangganya segera menekan tombol “Show”, hehehehe, ketauan ni hapenya Marleykun seri berapa.

“Wah, Ina sms meneh ki, Mbak… Stress aku Mbak…” kata Marleykun, curhat sama tetangganya.

“Wis, ra sah diladeni! Ga usah dibales!” jawab tetangganya sambil tetap asyik nonton live music yang udah di-CD-kan itu…

“Adohhhh, nek ra dibales mengko dikiro nopo-nopo, dibales mengko malah ndodro,” kata Marleykun bingung.

“Salahmu dhewe, to! Pokoke aku wis emoh mbantu meneh. Dulu pernah bantu biar kamu sama istrimu rukun lagi. Lha, kamu malah berhubungan sama Ina lagi… Aku nganti isin karo bojomu,” jawab si Mbak lagi.

“Ayolah, Mbak! Helep mi!” Marleykun memohon-mohon, “Aku kudu njawab piye ki, Mbak?”

Huuuuuuu, dasar Marleykun! Udah punya istri, masih aja menginginkan wanita lain. Sekarang baru tau rasa dia, istrinya lagi ngambek – pulang ke rumah orangtuanya sama anak mereka yang masih kecil. Rumah tangganya di ujung tanduukkkk! Ditambah lagi, si Ina – selingkuhannya – sekarang malah jadi kayak teroris gitu… Marleykun sampai stress!!!

Biar nggak stress, Marleykun nyanyi, “Dasar kau keong racun! Baru kenalan ngajak tidur…”

***

Dulunya, Marleykun kuliah di sebuah jurusan yang berbau agama gitu, alamat setelah lulus dia bakal menjadi guru agama – membantu bangsa dan negara tercinta dalam mencetak generasi muda berakhlak mulia. Tapi, waktu dia jadi guru agama honorer, si Marleykun ni malah nggak enjoy sama profesi mulianya. Sebabnya, honornya kecil plus musti ngadhepin anak-anak orang yang karakternya macem-macem, dan dia musti menjelma menjadi sesosok guru agama yang patut diteladani. Setelah merasa benar-benar nggak kuat, Marleykun akhirnya memutuskan untuk berdagang di pasar.

Pagi ini Marleykun sudah memanaskan mobil tuanya. Dandanan sudah oke. Sebagai pedagang pakaian, si Marleykun bertekad akan berpenampilan rapi dan seganteng mungkin, biar para pengunjung pasar yang didominasi kaum hawa tertarik untuk membeli baju di kiosnya.

Swingggg, swingggg… Si cicak yang ada di atas lemari pakaian sampai nutup hidung gara-gara bau parfum yang dipakai Marleykun kelewat menyengat.

“Dasar kau keonggg racun…!” Marleykun ngaca sambil menyanyikan lagu favoritnya. Untuk sementara, dia melupakan anak, istri, dan selingkuhannya. J

***

Thiiiiiiinnnnn, thiiiiinn….! Marleykun membunyikan klakson mobilnya. Banyak banget ayam yang lagi pada party di halaman rumahnya. Bu Mariyam sedang njemur gabah rupanya… Ayam-ayam pun langsung pada ngibrit denger suara klakson mobilnya Marleykun.

“Awas kau, Marleykun! Tunggu pembalasanku!!!” teriak salah seekor ayam penuh dendam.

“Likun, jolali titipane Mak!” seru Bu Mariyam yang lagi duduk nyantae sambil baca koran di teras.

“Nggih, Mak! Titip nopo mawon wau?” tanya Marleykun sambil mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil demi melihat emaknya.

“Emping sekilo, krupuk urang setengah kilo, lengo klentik sekilo, brambang seprapat, bawang seprapat, lombok setengah kilo, gulo jowo sekilo, kenthang rong kilo… Oiyo, jolali cakar setengah kilo wae…!” jelas Bu Mariyam sambil berusaha mengingat-ingat apa yang ingin dia beli.

“Busyettt, Mak! Akeh banget… Damel cathetan mawon, Mak!” usul Marleykun.

“Yo wis kono, njupuk kertas ro polpen dhisik!” seru Bu Mariyam sambil mengalihkan perhatiannya ke koran lagi.

Marleykun terpaksa turun dari mobilnya lalu duduk di samping Emaknya yang mulai mendiktenya. Dia mengetikkan semua titipan emaknya di hape.

Belom selesai ngetik, hape Marleykun berbunyi, nadanya panjang, ada panggilan masuk. Muncul nama Ina di layar hapenya. Muka Marleykun langsung panik. “Ampuuuuun, pagi-pagi masalah dah nongol lagi!” ratap Marleykun  jauh di lubuk hatinya.

“Mangkeh riyin, Mak… Telpon penting niki…” kata Marleykun sambil beranjak ke dalam rumah. Ia masuk ke kamarnya lagi.

“Loh, loh… Ngapain lu balik lagi, Marleykun?” tanya cicak di atas lemari.

Awalnya, Marleykun ragu untuk menerima panggilan Ina, tapi akhirnya…

“Halo…,” kata Marleykun.

“Ngopo Mas, kok suarane lemes ngono…,” kata Ina di seberang sana.

“Sopo sik lemes?” tanya Marleykun dengan muka stress.

“Suaramu kuwi lho! Aku ki wis apal karaktermu to yo… Wis rong tahun dadi pacarmu mosok ra apal… Ono opo, to?” tanya Ina lagi.

“Wis to, In… Ra sah ngono kuwi…,” kata Marleykun.

“Ribut karo bojomu, ya?” tanya Ina.

“Lha kuwi ngerti…” kata Marleykun.

“Hehehehehe…,” Ina tertawa.

“Asem ik… Malah diguyoni…,” kata Marleykun kecut.

“Sampeyan ke yo lucu og…” kata Ina.

“Wis to, In… Ra sah ngubungi aku meneh. Aku ki wis arep tobat… Aku emoh kehilangan anak ro bojoku… Tulong to, In…!” Marleykun memohon.

“Halah, mbiyen yo ngomong ngono. Tapi bar kuwi sampeyan isih ngubungi aku meneh… Iyo to?” kata Ina.

“Kuwi mbiyen, In… Saiki aku arep tobat tenanan… Kapok aku…” kata Marleykun.

“Lha saiki aku emoh kelangan kowe, Mas! Nek aku ro sampeyan putus, sampeyan enak bakal kumpul lan urip bahagia karo anak bojomu. Lha aku untunge opo?” Ina membombardir Marleykun.

Marleykun pusing…

“Dasar kau keong racun…!” Kali ini si cicak yang menyanyi.

“Likuuuuuuun!” Tiba-tiba Bu Mariyam berteriak.

Marleykun segera menutup pembicaraannya dengan Ina.

“Aku arep mangkat dodolan. Uwis yo…!” kata Marleykun sambil menekan tombol End.

“Nggih, Mak… I am coming…” Marleykun segera menuju ke teras dengan segudang rasa stress-nya.

“Deloken, kae… Mobilmu disingi pitik!” kata Bu Mariyam sambil menunjuk ke bagian depan mobil Marleykun. Ada kotoran ayam diare di situ.

Snutttt snuuuuttt… Marleykun tambah pusing. Si ayam benar-benar balas dendam…

***

To be continued