Dalam kondisi penuh masalah, ternyata Marleykun tetap saja seorang playboy cap kerbau gila, sruduk sana-sruduk sini. Bu Mariyam sampai harus menjewernya saat si Marleykun ketahuan menggoda Veni. Namun, kondisi memusingkan ini tidak membuat Marleykun berhenti bekerja demi mencari segepok uang dengan berjualan baju di Pasar Kliwon. Naluri ke-bapak-an-nya juga masih kuat. Ia begitu merindukan Wiwi – putri kesayangannya. Inilah sisi baik Marleykun. Ibarat keping uang logam, ada sisi baik dan jahat dalam dirinya.
***
“Uhuuiy… Laris manis, Mas!” seru Pak Kribo – pedagang nasi rames yang sedang mengantarkan makan siang buat Marleykun – nasi putih, buntil kuah pedas, telur ngglondong masak kecap, plus es teh.
“Alhamdulillah, Pak!” jawab Marleykun sumringah sembari menyerahkan selembar uang lima ribuan.
“Loh, Mbakayune ngendi, Mas? Lah, sampeyan kok dhewekan?” tanya si Pak Kribo.
“Lagi ke rumah mertua, Mas! Biasa, kangen sama bapak simboknya…” jawab Marleykun enteng.
“Ohh.. Yo wis maturnuwun. Jangan lupa, misscall aku nek sampeyan wis rampung! Nanti piring gelasnya biar kuambil,” kata Pak Kribo sembari berlalu menuju warungnya lagi.
“Oke, Boss!’ jawab Marleykun ceria.
Namanya juga jaman handphone, Pak Kribo yang rambutnya beneran kribo itu menjalankan sistem delivery order di warungnya. Bebas ongkir lho! Ketik ngelih banget/nama/nomor kios/pesanan, kirim ke 085292019123. Contoh : ngelih banget/Marleykun/B-20/nasi buntil telur dan es teh.
Nyam, nyam, nyammmm… Marleykun menikmati makan siangnya. Tiba-tiba terdengar bunyi “thit thit thit thit”. Ada sms masuk. Marleykun merogoh HP di saku kemejanya. Wajah Marleykun langsung ceria saat mengetahui sms-nya dari Laila. Usai membaca sms, ia menarik nafas panjang.
“Mas, Wiwi nangis terus pengen ketemu sampeyan,” begitu bunyi sms Laila.
“Yuhuuuu!” seru Marleykun sambil menyuapkan nasi ke mulutnya dengan gembira.
***
Sorenya, setelah mampir ke rumah sebentar untuk menyerahkan titipan Maknya, Marleykun segera meluncur ke rumah mertuanya. Beberapa macam oleh-oleh sudah dibawanya: martabak manis kesukaan Laila, jeruk mandarin, dan beberapa kardus makanan bayi.
Sesampainya di rumah mertua, tampak Bu Kartinah dan Pak Basuki –orangtua Laila – sedang duduk santai di teras. Marleykun gemetaran demi melihat mereka berdua. Rasanya dunia mau runtuh saja. Pak Basuki terkenal tegas mendidik anak-anaknya.
“Assalammu’alaikum, Pak, Bu!” sapa Marleykun santun.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Bu Kartinah dan Pak Basuki bersamaan. Ramah.
“Wis kono, Wiwi selak kangen kae…” Bu Kartinah menyuruh Marleykun masuk.
Marleykun heran. Mertuanya tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.
“Nggih, Bu!” jawab Marleykun sembari menyerahkan oleh-oleh, “Saya membawa sedikit jeruk dan martabak, Ibu… Monggo dipundhahar… Kula mlebet riyen nggih…!”
Marleykun langsung tersenyum saat Wiwi terlihat menyambutnya dengan ceria… Wiwi langsung dipeluk dan diciumnya. Sementara Laila diam saja.
“Uh, Wiwi cayanggg… Kangen bapak, nggih?” kata Marleykun sembari menggendong Wiwi.
Wiwi tertawa senang. Ada senyum tipis yang tersungging di bibir Laila.
“Aku nginep kene ya, Dek!” kata Marleykun membuka pembicaraan dengan Laila yang sedari tadi terdiam.
“Terserah,” jawab Laila datar.
Marleykun akhirnya menginap di rumah mertuanya. Tidur di kamar tamu, Laila tidak mau tidur sekamar dengannya.
“Nasib, nasib…!” jerit Marleykun dalam hati.
***
Paginya, Marleykun pamit untuk pergi berdagang seperti biasanya.
“Mau pergi ke Semarang lagi, Nak?” tanya Bu Kartinah. Marleykun nggak mudeng.
Laila buru-buru menjawab, “Nggih Mak, Mas Likun badhe tindak teng Semarang malih. Pameran kerajinanipun dugi dinten ahad ngenjing.”
“Apa, Dek?” Marleykun menatap Laila. Bingung.
Laila menginjak kaki Marleykun sambil memberikan isyarat lewat tatapannya. Hmmm, ternyata Laila tidak menceritakan pertengkaran itu. Marleykun lega.
***
“Wah, seger nemen Mas! Lagi okeh rejeki sajake!” seru Pak Kribo sambil mengantarkan makan siang seperti biasanya.
“Alhamdulillah, Pak!” jawab Marleykun ramah.
Lagi enak-enaknya makan siang, terdengar HP-nya berbunyi “thit-thit-thit-thit”. Wajah Marleykun langsung sumringah. “Pasti dari Laila!” batin Marleykun sambil senyam-senyum.
“Mas, aku butuh duit 300.000. Aku ning ngarep Pasar Kliwon, cerak apotek. Aku moro rono, opo sampeyan sik rene?” Sendernya Ina. Nafsu makan Marleykun hilang seketika.
“Edan tenan iki, Ina soyo ra nggenah ae!” batin Marleykun. Pedagang di seantero pasar sudah mengenal Laila sebagai istrinya. Marleykun nggak mau nama baiknya tercemar.
Setelah menitipkan dagangannya kepada pedagang kios sebelah, Marleykun segera menuju apotek.
***
Ina tampak begitu cantik siang ini. Ia mengenakan rok selutut dan atasan kaos “you can see”. Rambutnya yang halus dibiarkan terurai. Ia semakin manis dengan bandana kain warna putih bercampur biru yang dipakainya. Feminin, itulah Ina.
Marleykun sedikit senang melihat Ina yang terlihat begitu manis di matanya. Tadi sewaktu masih di kios, Marleykun sudah merancang kata-kata: “In, mulai saiki, dhewe wis ra ono hubungan opo-opo meneh. Aku njaluk tulung karo sampeyan. Melas anak karo bojoku yen hubungane dhewe tetep lanjut.”
Tapi, yang keluar dari mulutnya jauh berbeda: “Manis banget sampeyan, Dek!” Marleykun menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan. Selingkuh pun butuh modal ternyata. Selanjutnya, mereka makan bakso di warung dekat apotek. Marleykun, Marleykun….!
“Jare wis emoh ketemu aku?” tanya Ina iseng.
“Kepekso,” jawab Marleykun.
Ina cuma mesem. “Mengko bengi dolan ning omahku, Mas!” katanya.
Marleykun juga mesem. Mesem-mesum. Lagi-lagi Marleykun melupakan anak-istrinya. Mendadak amnesia!
***
Malam, pukul 22.00. Rumah Ina selalu saja sepi setiap jam segini. Bapak, simbok dan kedua adiknya sudah tidur.
Marleykun menenteng kardus martabak telur dan dua plastik wedang jahe.
Ina mengenakan baby doll warna pink. Usianya baru menginjak dua puluh satu tahun. Riasan tipis menghiasi wajahnya yang tetap saja terlihat ayu meski hanya mengenakan baby doll.
Selanjutnya tidak perlu diceritakan lagi. Yang pasti, Marleykun baru pulang keesokan harinya. Sebelum berangkat ke pasar, dia menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. Marleykun juga memberi uang saku kepada Panji dan Pandu, kedua adik Ina yang masih duduk di bangku kelas satu SMA.
Marleykun pamitan kepada Bapak dan Simboknya Ina, lalu segera meluncur ke pasar.
Setelah mobil Marleykun menghilang di pertigaan kampung, Ina menghela nafas. Berat dan panjang.
“Mbak, aku kudu mbayar SPP dino iki…” kata Pandu memohon.
Ina buru-buru mengambil dompetnya. Pandu dan Panji masing-masing mendapat Rp 225.000,00. SPP si kembar Panji dan Pandu sudah menunggak tiga bulan. Bapak dan simboknya tidak mempunyai uang untuk melunasinya. Bapaknya sakit-sakitan sejak tiga tahun lalu, sementara penghasilan simboknya sebagai pengrajin emping mlinjo tidaklah mencukupi kebutuhan mereka.
Selama dua tahun ini, Ina memang banyak bergantung kepada Marleykun. Ah tidak juga, Ina bergantung kepada banyak lelaki yang menjadi pacarnya…
Ina tersenyum melihat kedua adiknya pergi ke sekolah dengan bahagia. “Untung aku berhasil membuat Mas Marley kembali ke sini. Jika tidak, aku harus turun ke jalan semalam. batin Ina perih.
Ternyata Marleykun selingkuh dengan seorang pelacur belia!
***
Bersambung


