Cerita Bermakna

Matahari

Kemarin Pia bercerita:

“Mbak, dulu aku punya buku dongeng, loh… Salah satu ceritanya tentang seorang bapak tikus yang ingin mencarikan jodoh buat putrinya. Dia berjanji akan menemukan jodoh yang paling kuat. Lalu, bapak tikus pun menemui matahari dan bertanya, ‘Matahari, mau tidak menikahi putriku? Kau kan yang paling kuat…” Namun Bapak tikus kecewa tatkala awan berarak lantas menghalangi matahari. “Matahari bukanlah yang paling kuat…,”batinnya.

Bapak tikus pun lantas menemui awan dan meminta awan meminang putrinya. Namun, awan menolak dengan alasan,”Ada yang lebih kuat dariku… Yaitu angin. Dia mampu menerbangkan aku.”

Lalu Bapak tikus menemui angin dan mengutarakan maksudnya lagi. Tapi, lagi-lagi ia harus kecewa. “Ada yang lebih kuat dariku, yaitu tembok. Dia tidak rubuh olehku,”katanya.

Bapak tikus semakin putus asa. Dia lantas menemui tembok. Namun tembok menjawab,” Ada yang lebih kuat dariku. Tikus mampu menggerogoti aku.”

Akhirnya, Bapak Tikus menikahkan putrinya dengan sesama tikus…”

Merindu Salam di Udara

Oleh Bahtiar HS
29 Mei 06

Langit cerah di ketinggian tiga puluh tiga ribu kaki. Langit memang berawan, tetapi burung besi ini tenang tak berguncang. Daratan pantai sekitar Cirebon samar terlihat di balik kabut di bawah sana. Amboi! Betapa enaknya membayangkan berselancar dari ketinggian ini, mengarungi ruang terbuka di atas laut biru, dan kemudian bisa mendarat mulus di tepian pantai berpasir putih itu.

Namun, itu semua tak bisa mengalahkan betapa nyamannya mendengar announcement di speaker cabin pesawat Adam Air B-737 serie 400 dengan nomor penerbangan KI 171 hari ini. Announcement yang dibuka dengan kalimat yang kurindukan selama ini setiap kali naik burung besi.

Assalaamu’alaikum. Selamat pagi para penumpang yang tercinta.”

Aha! Aku surprised, terkejut, senang, kaget, entah apa lagi bercampur-aduk jadi satu. Benar-benar unbelievable! Sampai lupa aku menjawabnya!

“Di sini Kapten Irfan, pimpinan penerbangan ini berbicara kepada Anda. Sebentar lagi kita akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno – Hatta di Jakarta. Keadaan di bandara dilaporkan cerah …”

Puluhan kali sudah aku terbang. Puluhan bandara tujuan mulai dari Sultan Iskandar Muda di Aceh hingga Juwata di Tarakan pernah kukunjungi. Hampir semua airline pernah kunaiki, dari yang nyaman sampai yang gerung baling-balingnya serupa dua buldoser usang sedang menggali jalan, membuat adrenalin naik sampai ubun-ubun. Tak ada yang diharapkan kala itu kecuali mengharap secepatnya mendarat di tujuan. Dan baru sekali ini … ya sekali ini kudengar salam itu. Assalaamu’alaikum.

Ya. Assalamu’alaikum. Just simple! Tetapi, mendengarnya pagi ini, sepuluh menit sebelum turun perlahan dari ketinggian tiga puluh tiga kaki dan menyentuh landasan, serupa menemukan oase di tengah terik kekeringan gurun sahara.


***

Namanya Hari. Orang Jombang. Dia anggota tim programmer dalam project-ku untuk salah satu customer di Jakarta. Dan dia adalah satu-satunya anggota tim, bahkan di kantor, yang tidak pernah mengenakan seragam ke kantor kecuali setelan baju koko. Tak pernah bersepatu. Hanya sandal. Tasabbuh, katanya.

Baiklah. Bukan itu yang mau kuceritakan padamu tentangnya. Tapi, kejadian beberapa waktu lalu. Rombongan timku datang ke Jakarta untuk kegiatan implementasi sistem di salah satu customer. Naik Xenia dari Surabaya, karena banyak membawa peralatan. Nah, karena suatu alasan, ketika pulangnya, mereka harus berganti mobil dengan Timor. Tentu saja, kapasitas penumpangnya lebih sedikit. Karena itu, satu orang dari mereka harus naik pesawat. Dan prioritas pertamaku adalah siapa yang kedatangannya di rumah sangat diharapkan seseorang, terutama anak isterinya. Maka, kalahlah para bujangan, dan Hari pun mendapatkan kesempatan itu. Dia sajalah yang sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Aku pun membelikan Hari tiket Jakarta-Surabaya. Dan ini bakal menjadi pengalaman terbang pertamanya.

Tapi, aku jadi geli ketika setelah menerima tiket ia bertanya-tanya.

“O ya Pak. Pramugarinya nanti perempuan, ya, Pak?” tanyanya serius.

Kami tertawa. “Ya jelas, Hari,” jawabku sambil tersenyum. “Kalau laki, namanya pramugara!” Kami tertawa lebih keras.

“Trus, tempat duduknya campur laki dan perempuan, Pak?” tanyanya lagi lebih serius.

“Ya. Tergantung waktu check-in. Kalau kita minta sebaris, ya nanti sebaris sama aku,” jawabku masih tetap dengan geli. “Tapi aku nggak tahu siapa di samping kita nanti. Boleh jadi laki. Tapi boleh jadi perempuan.”

Hari tampak berpikir keras.

“Kalau gitu, saya mending naik mobil saja, Pak!” katanya membuat keputusan.

“Ha? Gimana bisa? Karena tiketnya sudah atas nama kamu. Kan nggak bisa diganti seenaknya. Apalagi kadang ditanyain KTP. Kalau nama yang tertera di tiket tidak sama dengan KTP, mereka tidak mau menerima.”

“Gimana ya Pak, enaknya?”

“Emangnya kenapa?”

“Pramugarinya perempuan sih Pak! Pakai jilbab nggak Pak?”

“Ya nggak pakai, Hari. Tapi, pramugari Lion Air yang akan kita naiki ini pakai long-dress kok. Baju panjang hingga ke mata kaki!”

“O, ya, Pak?”

“Ya. Tapi, roknya terbelah setinggi ini …” kataku sambil merentangkan tangan setinggi pinggul.

Hari semakin pusing. Tapi akhirnya ia dengan terpaksa terbang bersamaku. Kulihat ia meringkuk di kursinya sejak fasten his seat-belt, tidur sepanjang perjalanan, dan baru bangun ketika roda pesawat menyentuh landasan bandara Juanda.

Berakhir sudah penderitaannya selama satu jam dan lima menit di udara.

***

Sekarang mari kita coba bayangkan situasi ini.

Pada sebuah pesawat. Pada suatu hari. Pada suatu tempat. Para penumpang sudah duduk di tempat masing-masing. Laki bersanding dengan laki. Perempuan dengan perempuan. Tentu saja kecuali mereka ada hubungan mahram.

Seorang pramugari kemudian meraih microphone cabin pesawat. Ia berbaju kurung warna hijau gading. Kerudungnya putih lebar berenda bunga matahari yang tengah mekar. Mulailah ia menyapa.

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”

“Para penumpang yang dirahmati Allah. Di sini Salma, penyelia awak cabin Anda, berbicara.”

“Selamat datang di dalam pesawat Muslim Air Boeng 737 seri 400 ini dengan tujuan Soekarno – Hatta di Jakarta. Penerbangan ke Jakarta Insya Allah akan kita tempuh dalam waktu satu jam dan lima menit. Sungguh bahagia kami bisa menyertai Anda terbang hari ini.”

“Untuk itu, sebelum take-off, kami mengajak bapak ibu semua untuk sejenak berdoa, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita di dalam perjalanan ini, memberikan kelancaran dan keselamatan kepada kita hingga tiba di tujuan. Insya Allah. Bismillahirrahmaanirrahim. Bismillahi tawakkaltu ‘alalLah. Laa haula walaa quwwata illa bilLah. Amin.”

Subhanallah! Betapa nyamannya berada di ruang cabin pesawat seperti ini. Ketika waktunya shalat tiba, adzan pun berkumandang menembus dinding-dinding burung besi. Awak kabin tak lupa mengingatkan penumpang akan shalat yang waktunya telah tiba.

Aha! Jika ada airline yang memperhatikan aspek spiritual dan juga aturan syariat seperti ikhtilat, menutup aurat, shalat, di samping pelayanan yang prima, aku yakin bakal menjadi rujukan dan menjadi prioritas pilihan terbang bagi banyak penumpang di tengah persaingan bisnis airline seperti saat ini.

Jika ini terjadi, mungkin Hari pun tak perlu gamang lagi terbang untuk kali kedua.

Jadi, siapa berani invest? Anda barangkali?

Berusaha Memahami

Oleh Seriyawati

31 Mei 06

Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang sempit. Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari atau tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi karena sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang berada di tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului.

Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan pemuda itu. “Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati nenek itu,” tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada seseorang di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain. Dengan membungkukkan badannya berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada orang Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan berlalulah pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara omelannya.

Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol. Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan agak ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak ada orang yang lewat.

Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu karena asyik mengobrol? Tiba-tiba ada orang berkata, “Sumimasen.sumimasen…” Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya. Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak untuk meminta jalan kepada kami.

Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama halnya dengan kami.”Ah… sumimasen, gomen nasai…,” kataku meminta maaf sambil menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada orang yang sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya disertai senyuman di bibirnya. “Duh…kok dia nggak marah, ya?” batinku. Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya terhalang, dan dari jauh sudah membunyikan bel sepedanya nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar kata-kata umpatan yang tidak sedap didengar.

***

Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson mobil ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka sudah sampai pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu patuhnya pada peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar dalam kehidupan mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh karena membunyikan klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh pada peraturan. Itukah jawabannya?

“Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?” tanyaku pada suami, yang kebetulan orang Jepang. “Ngapain bunyiin klakson? Kayak orang bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?” suamiku malah balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang teratur, yang jalan lurus sudah ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin belok mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan jalan lurus. Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara yang berlawanan arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri.

***

Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit lagi untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga tak terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya melihat sekilas kepada kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami.

“Heh…! Kok ada perasaan tak enak ya?” batinku ketika aku melihat seorang nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan orang-orang yang ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami masih kosong, tetapi karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka mereka akan berada di belakang kami.

Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku yang tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf, “Sumimasen…” Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk.

Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami.

Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang Jepang. Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih bisa berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak ada hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya. Sesuatu yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami perasaan orang lain.

Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling memahami (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari rasa saling memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama. Yang kemudian akan berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang lain, tingkatan yang tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin rasa saling cinta kasih.

Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku berharap dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah insan yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain. Wallahu`alam bisshowab.

berhati2lah…

MANUSIA BERHADAPAN DENGAN ENAM PERSIMPANGAN

Abu Bakar r.a. berkata, ” Sesungguhnya iblis berdiri di depanmu, jiwa di sebelah kananmu, nafsu di sebelah kirimu, dunia di sebelah belakangmu dan semua anggota tubuhmu berada di sekitar tubuhmu. Sedangkan Allah di atasmu. Sementara iblis terkutuk mengajakmu meninggalkan agama, jiwa mengajakmu ke arah maksiat, nafsu mengajakmu memenuhi syahwat, dunia mengajakmu supaya memilihnya dari akhirat dan anggota tubuh menagajakmu melakukan dosa. Dan Tuhan mengajakmu masuk Syurga serta mendapat keampunan-Nya, sebagaimana firmannya yang bermaksud, “….Dan Allah mengajak ke Syurga serta menuju keampunan-Nya…”

Siapa yang memenuhi ajakan iblis, maka hilang agama dari dirinya. Sesiapa yang memenuhi ajakan jiwa, maka hilang darinya nilai nyawanya. Siapa yang memenuhi ajakan nafsunya, maka hilanglah akal dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan dunia, maka hilang akhirat dari dirinya. Dan siapa yang memenuhi ajakan anggota tubuhnya, maka hilang syurga dari dirinya.

Dan siapa yang memenuhi ajakan Allah S.W.T., maka hilang dari dirinya semua kejahatan dan ia memperolehi semua kebaikan.”

Iblis adalah musuh manusia, sementara manusia adalah sasaran iblis. Oleh itu, manusia hendaklah sentiasa berwaspada sebab iblis sentiasa melihat tepat pada sasarannya.

Sumber : 1001 Kisah Teladan

maaf…

180px-shalatanakkecil.jpg
“Yaa Allah…
Tumpahkanlah air mataku
Khusyukkan shalatku diawal waktu
Alquran senantiasa membasahi bibirku, mengiringi langkah-langkahku
Jaga amalanku dengan ilmu
Biarkan terjaga malam-malamku dengan kemuliaan-Mu
Jadikan rumah-Mu rumahku

Sayangilah orang-orang yang mencintaiku
Jadikan tiap nafasku jihad kepada-Mu

Baguskan akhir umurku…”

“Yaa Allah…
Jauhkan dariku sifat munafiq
Jauhkan dariku sifat munafiq
Jauhkan dariku sifat munafiq”
Aamiin…

”Yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika”
”Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu”
Aamiin…
(Hadist Riwayat at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim dishahihkan oleh adz-Dzahabi)
sumber:  arrohwany.multiply.com

>>>pesan sahabat…

Janji – Janji
 
Allah tidak pernah berjanji
Bahwa langit selamanya akan berwarna biru
Bunga selamanya akan mekar ke arah tertentu
Matahari akan selalu bersinar tanpa hujan
Kesenangan akan datang tanpa kesedihan
Kedamaian akan datang tanpa penderitaan
 
Tetapi Allah berjanji
Bahwa ada kekuatan yang datang setiap hari
Istirahat bagi yang telah bekerja
Cahaya bagi yang berjalan di jalan-Nya
Kebahagiaan akan tiba sesudah banyaknya cobaan
Bantuan-Nya akan datang secara berterusan
Dia akan terus mengasihi tanpa henti
Cinta-Nya akan selalu kekal abadi
 
Ya Allah, izinkan aku untuk tertawa
Tetapi jangan biarkan aku lupa bahwa
Aku pernah menangis sebelum mendapatkannya

Bersyukurlah……

Bersyukurlah

bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan…

Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

 

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu,

karena itu memberimu kesempatan untuk belajar…

 

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit,

di masa itulah kamu bertumbuh…

 

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu,

karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang…

 

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru,

karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu….

 

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat,

itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga…


Bersyukurlah

bila kamu lelah dan letih,

karena itu berarti kamu telah membuat suatu perbedaan…

 

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik …

Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka

yang juga bersyukur akan masa yang surut…

 

Rasa syukur dapat mengubahkan hal yang negatif menjadi positif….

Temukan cara untuk bersyukur akan masalah-masalahmu

dan semua itu akan menjadi berkah bagimu ……..

(copy from email sorang shbt)

Mengapa Hati Keras Membatu…?!

a.jpgHati adalah sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan.
Hati juga sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya, namun sebaliknya merupakan sumber bencana jika menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung lurus bengkoknya hati. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya.”


Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

  1. Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan
    Terutama malas untuk menjalankan ibadah, bahkan mungkin meremehkan nya, melakukan shalat asal-asalan tanpa ada kekhusyukan dan kesungguhan, merasa berat dan enggan, merasa berat pula menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifati kaum munafiqin. Firman-Nya, artinya, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

  2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur’an dan Petuah
    Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

  3. Tidak Tersentuh dengan Ayat Kauniyah
    Tidak tergerak dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan pelajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

  4. Berlebihan Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
    Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

  5. Kurang Mengagungkan Allah.
    Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman melemah, tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran. Tidak mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

  6. Kegersangan Hati
    Kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu.

  7. Kemaksiatan Berantai
    Termasuk fenomena kerasnya hati adalah lahirnya kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri.

    Sebab-Sebab Kerasnya Hati

Di antara faktor kerasnya hati, yang penting untuk kita ketahui yakni:

  1. Ketergantungan Hati kepada Dunia serta Melupakan Akhirat
    Kalau hati sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka hati tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah. Kesenangannya hanya kepada urusan dunia belaka, akhirat terabaikan dan bahkan ter-lupakan. Hatinya lalai mengingat maut, maka jadilah dia orang yang panjang angan-angan.

    Seorang salaf berkata, “Tidak ada seorang hamba, kecuali dia mempunyai dua mata di wajahnya untuk memandang seluruh urusan dunia, dan mempunyai dua mata di hati untuk melihat seluruh perkara akhirat. Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Dia membuka kedua mata hatinya dan jika Dia menghendaki selain itu (keburukan), maka dia biarkan si hamba sedemikian rupa (tidak mampu melihat dengan mata hati), lalu dia membaca ayat, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad : 24)

  2. Lalai
    Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam hati dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga hati akhirnya menjadi terkunci. Allah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS.16:108)

    Allah Subhannahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki hati keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Dia bagai batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara. Tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan. Mereka juga memiliki telinga, namun hanya digunakan untuk mendengarkan berbagai bentuk kebatilan, kedustaan dan kesia-siaan. Tidak pernah digunakan untuk mendengarkan al-haq dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam (Periksa QS. Al A’raf 179)


  3. Kawan yang Buruk
    Ini juga merupakan salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berku-bang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, banyak mendengar musik dan menghabiskan hari-harinya untuk film, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.

  4. Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran
    Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan menuju kepada-Nya serta membalikkan arah perjalanan yang lurus. Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama, sehingga semakin hari semakin bertumpuk tanpa terasa.

    Dianggapnya hal itu biasa-biasa saja, padahal satu persatu kemaksiatan tersebut masuk ke dalam hati, sehingga menjadi sebuah ketergantungan yang amat berat untuk dilepaskan. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam hati, dan melemah pula jalannya hati menuju Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak menuju Allah.

  5. Melupakan Maut, Sakarat, Kubur dan Kedahsyatannya.
    Termasuk seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan hatinya.

  6. Melakukan Perusak Hati
    Yang merusak hati sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim ada lima perkara, yaitu banyak bergaul dengan sembarang orang, panjang angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan makan dan berlebihan tidur.

    Solusi

Hati yang lembut dan lunak merupakan nikmat Allah yang sangat besar, karena dia mampu menerima dan menyerap segala yang datang dari Allah. Allah mengancam orang yang berhati keras melalui firman-Nya, “Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)

Di antara hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kerasnya hati dan menjadikannya lunak, lembut dan terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah yakni:

  1. Ma’rifat (mengenal) Allah
    Siapa yang kenal Allah, maka hatinya pasti akan lunak dan lembut, dan siapa yang jahil terhadap-Nya, maka akan keras hatinya. Semakin bodoh seseorang terhadap Allah, maka akan semakin berani melanggar batasan-Nya. Dan semakin seseorang berfikir tentang Allah, maka semakin sadar akan kebesaran Allah, keluasan nikmat serta kekuasaan Nya.

  2. Mengingat Maut
    Pertanyaan kubur, kegelapannya, sempit dan sepinya, juga penderitaan menjelang sakaratul maut termasuk ke dalam mengingat maut. Memperhatikan pula orang-orang yang telah mendekati kematian dan menghadiri jenazah. Hal itu dapat membangunkan ketertiduran hati kita, dan mengingatkan dari keterlenaan. Sa’id bin Jubair berkata, “Seandainya mengingat mati lepas dari hatiku, maka aku takut kalau akan merusak hatiku.”

  3. Berziarah Kubur dan Memikirkan Penghuninya.
    Bagaimana mereka yang telah ditimbun tanah, bagaimana mereka dulu makan, minum dan berpakaian dan kini telah hancur di dalam kubur, mereka tinggalkan segala yang dimiliki, harta, kekuasaan maupun keluarga, lalu ingat dan berfikir, bahwa sebentar lagi dia juga akan mengalami hal yang sama.

  4. Memperhatikan Ayat-ayat Al- Qur’an.
    Memikirkan ancaman dan janjinya, perintah dan larangannya. Karena dengan memikirkan kandungannya, maka hati akan tunduk, iman akan bergerak mendorong untuk berjalan menuju Rabbnya, hati menjadi lunak dan takut kepada Allah.

  5. Mengingat Akhirat dan Kiamat
    Huru-hara dan kedahsyatannya, Surga dengan kenimatannya, neraka dengan penderitaannya yang disediakan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan.

  6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
    Dzikir dapat melunakan hati yang keras. Karena itu selayaknya seorang hamba mengobati hatinya dengan berdzikir kepada Allah, sebab ketika kelalaian bertambah, maka kekerasan hati makin memuncak pula.

  7. Mendatangi Orang Shalih dan Bergaul dengan Mereka.
    Orang shaleh akan memberikan semangat ketika kita lemah, mengingatkan ketika lupa, dan memberikan jalan ketika kita bingung dan pertemuan dengan mereka akan membantu kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah

  8. Berjuang, Introspeksi dan Melihat Kekurangan Diri.
    Manusia, jika tidak mau berjuang, introspeksi dan melihat kekurangan diri, maka dia tidak tahu, bahwa dirinya sakit dan banyak kekurangan. Jika dia tidak merasa sakit atau punya kekurangan, maka bagaimana mungkin dia akan memperbaiki diri atau berobat?

Wallahu a’lam, semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala melunakkan hati kita semua untuk menerima dan menjalankan kebenaran, amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber : Kutaib “Limadza Taqsu Qulubuna” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan.

Dari millist Salafi_indonesia

Manajemen Hati

images.jpgSepertinya hati kita harus ditata ulang. Ada nasehat sangat mulia bagaimana menata hati kita. Mari kita simak :

  • Dalam sebuah hadits dinyatakan, pada suatu ketika datanglah seseorang kepada Ibnu Ma’ud r.a, sahabat Rasulullah saw, untuk meminta nasihat. Wahai Ibnu Mas’ud, “ujarnya“ “berilah nasihat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang dilanda kecemasan dan kegelisahan. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tentram.Jiwaku gelisah dan pikiran pun serasa kusut, makan tak enak, tidur pun tidak nyenyak.”
  • Mendengar hal itu, Ibnu Mas’ud kemudian menasehatinya “Kalau penyakit seperti itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke tempat orang membaca Al Qur’an, kau baca Al Qur’an atau dengarkanlah baik-baik orang yang membacanya; atau pergilah ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau carilah waktu dan tempat yang sunyi, kemudian berkhalwatlah untuk menyembah-Nya, misalnya di tengah malam buta, ketika orang-orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, memohon ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati kepada-Nya. Seandainya jiwamu belum terobati dengan cara ini, maka mintalah kepada Allah agar diberi hati yang lain karena hati yang kau pakai itu bukanlah hatimu.

melatisidhi.blogspot.com

seputih melati…

Seputih Melati
Penulis : Bayu Gawtama

KotaSantri.com : Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna di balik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apa pun kondisinya, panas, hujan, terik, atau pun badai yang datang, ia tetap putih. Ke mana pun dan di mana pun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri.

Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Ke kanan ia ikut, ke kiri ia pun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena ke mana pun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air di antara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapa pun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apa pun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek, atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghias harum semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhaan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri di semua suasana alam.

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.

Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apa pun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas, dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.

http://www.kotasantri.com/beranda.php?aksi=Detail&sid=870