Matahari, Matahati, Matakaki, Matapisau, dan Mataku

(My Green, 20 April 2010, End=19:39)

Tadi sore sempat berpikir
Aku akan terus berjalan selama matahari masih bertengger di langit
Biarkan matakaki terus bercengkerama dengan jalan belum berujung
Aku ingin melihat ini dan itu…
Tahu jalan ini dan itu…

Berawal dari yang jauh dan berputar…
Tapi, lama-lama menjadi tahu…
Ini berada di dekat itu
Itu terletak jauh dari ini…

Matahati tak mau kalah oleh panasnya matahari
Juga tajamnya matapisau
Berilah kesempatan
agar mataku melihat banyak hal…
melihat kebaikan dalam perjalanan hidup
berbekal keyakinan dan rasa aman atas perlindunganMu…

Terimakasih Allah, telah menciptakanku
Sayang, terlalu sering aku mengecewakanMu…
Kumohon, maafkanlah aku…

Apa kabar Bidadari?

Astaghfirullah…
Maaf, hampir-hampir saja aku melupakan nama lengkapmu, Mar…
Marsiyati, bidadari kecil sahabatku dulu…
Dan tentu saja sahabatku hingga kini,
Semoga nanti kita dipertemukan kembali.

Entah kenapa selepas shalat Isya kali ini terbersit ingatan tentangmu…
Apa kabarmu di sana?
Pasti Allah sangat menyayangimu
Hingga menarikmu ke pelukanNya cepat-cepat dulu
Sebelum kau tahu bagaimana rasanya menstruasi
Sebelum kau tahu betapa banyak kesalahan dan dosa yang bisa terjadi dalam hidup ini…

Aku menangis mengingatmu berjalan sangat pelan di belakangku dulu
Sementara aku tak sabar lagi menunggu
Takut kita terlambat sampai sekolah dan dimarahi Bu Guru
Kau pasti merasa sakit sekali waktu itu,
Hingga kau memilih berlama-lama jongkok beristirahat,
Dan kami meninggalkanmu….
Astaghfirullah…

Pasti Allah memberi fasilitas terbaik buatmu,
Kasur yang jauh lebih hangat daripada kasur AC Milanku…
Selimut yang hangat dan lembut
Bantal empuk yang nyaman
Ruangan lapang dan bersih
Dengan penerang yang terang, tak seperti lampu kamarku yang redup

Dan jelas bahwa kamu akan menjadi bidadari
Di sana, di surga Allah nanti
Sedangkan aku?
Lihatlah, betapa aku jauh lebih berdosa dibanding dulu…

Aku melakukan banyak kesalahan, Mar
Bagaimana bisa kita bertemu dan bermain bersama lagi
Padahal aku ingin melihat wajah cantikmu…

Aku yakin saat ini Allah menempatkanmu di ketenangan alam barzah
Sedangkan aku baru bisa menuliskan bahwa hidup ini indah
Semoga kita bisa bertemu lagi ya, Mar…

Aku sayang kamu, sahabat kecilku…
(yang kembali ke pelukan Allah sepuluh tahunan yang lalu)

Allah, You created everything…
We belong to You…

Matahari

Sebuah drama tanpa dialog
Cuma ada prolog
Dan waktunya bagi Sang Epilog naik ke atas panggung
Epilog tanpa suara,
hanya ada tatapan dan senyum seperti dalam detik terakhir menuju ledakan bom
singkat dan tak mampu lagi kuulur waktu…

Di permulaannya kita berdua adalah avatar-avatar dari jiwa kita yang terpisah jauh dari raga
seumpamanya aku adalah Ntire
dan kau adalah Jake
Maka akhirnya pun sudah terbaca
Sayangnya Ntire dalam kisah kita tak mampu berucap
Dengan lisan atau bahasa mata
Karena yang kumampu hanya menuliskannya

Kutulis agenda gerhana matahari total kemarin
Kukatakan pada langit bahwa aku takkan melewatkannya
Akan kusaksikan dia menghilang perlahan
Meski tetap sunyi tanpa suara
Di kursi bercat putih panjang di tengah tanah lapang tempatku bernafas (benarkah lapang?)

Ku berjanji takkan menangis lagi
Di sepanjang perjalanan bus menuju rumah – saat kudengar kabar tentang kisahmu dengannya
Di tengah malam di saat waktu begitu tepat
Di saat kubaca mengenai kisahmu yang terlalu jauh dariku
Di saat aku begitu cemburu
Di saat aku menantikan kehadiran jiwamu di sampingku, tapi kau tak pernah datang
Di saat orang-orang menertawakan perasaanku (Kau juga merasakannya, kan?)

Dan kemarin kau tulis tak harus bersama
Itukah epilogmu? (kuharap bukan hanya sekedar salah menerka)
Begitu menghiburku…
Setidaknya kau tak lagi mengingkarinya…
(kuharap bukan hanya sekedar salah merasa)

Padahal tadi aku berjanji takkan menangis
Tapi sekarang…

Dulu kutulis sebuah cerita pendek
Dengan tokoh utama kau dan aku
Aku adalah gelap, jahat, hitam, dan dingin
Sedangkan kau penuh cahaya, baik, putih, dan hangat
Dan endingnya adalah
Gelap dan terang tak mungkin bersatu

Aku ingin menjadi gelap yang mampu berada dalam terang hatimu
Tak perlu kau menyiapkan bilik yang luas
Sedikit saja tak apa
Yang kubutuhkan adalah pengakuan atas keberadaanku
Di situ, di dalam hatimu…

Apa itu cinta?
Makan saja cinta…
Begitu kata mereka yang berpura-pura mendustakannya…

Kalau tak ada cinta, maka choco takkan menangis dalam peluk ayahnya
Kalau tak ada cinta, maka choco takkan menulis puisi-puisinya
Kalau tak ada cinta, maka choco takkan memasang fotonya sebagai wallpaper komputernya – dulu

Aku rindu
Menjadi sangat rindu setelah sampai ke bait ini
Karena aku mempercayainya
Sayang baru sebatas iman dan yakin dalam hati
Belum terwujud dalam lisan dan tingkah tersaji,
Karena aku takut dan malu…

Sederhana di Dekat Perempatan Gedongan

Pendidikan adalah penting bagi kami
makanya kami bernafas dalam udara sederhana
beristirahat di atas sederhana
makan dengan lauk pauk sederhana
bertuturkata dengan sederhana pula

Meskipun sederhana,
berkunjunglah ke rumah kami
rasakan kesejukan
kenyamanan
kecukupan
dan juga kebahagiaan di antara perbincangan kita nanti

Bagi kami,
sederhana bukanlah miskin
bukan pula bodoh dan keterbelakangan
bukan juga kemalasan.

Kalian boleh meminjamnya
semuanya yang menjadi saksi kesederhanaan kami
Al-Quran, Hadits
buku, koran
pengenalan teknologi
keramahan, persahabatan
santun kata
kerendahan hati, kebijaksanaan
perjuangan, semangat
kasih sayang dan cinta

Karena bagi kami sederhana adalah semangat
belajar, berusaha,
bersyukur, kerendahan hati
juga keindahan

Kami bahagia dengan kesederhanaan kami…
Anda mau bahagia seperti kami?

[ kenang-kenangan tersirat dari keluarga sahabatku... Subhanallah, fitri kagum sama kalian ^_^ ]