Sebuah drama tanpa dialog
Cuma ada prolog
Dan waktunya bagi Sang Epilog naik ke atas panggung
Epilog tanpa suara,
hanya ada tatapan dan senyum seperti dalam detik terakhir menuju ledakan bom
singkat dan tak mampu lagi kuulur waktu…
Di permulaannya kita berdua adalah avatar-avatar dari jiwa kita yang terpisah jauh dari raga
seumpamanya aku adalah Ntire
dan kau adalah Jake
Maka akhirnya pun sudah terbaca
Sayangnya Ntire dalam kisah kita tak mampu berucap
Dengan lisan atau bahasa mata
Karena yang kumampu hanya menuliskannya
Kutulis agenda gerhana matahari total kemarin
Kukatakan pada langit bahwa aku takkan melewatkannya
Akan kusaksikan dia menghilang perlahan
Meski tetap sunyi tanpa suara
Di kursi bercat putih panjang di tengah tanah lapang tempatku bernafas (benarkah lapang?)
Ku berjanji takkan menangis lagi
Di sepanjang perjalanan bus menuju rumah – saat kudengar kabar tentang kisahmu dengannya
Di tengah malam di saat waktu begitu tepat
Di saat kubaca mengenai kisahmu yang terlalu jauh dariku
Di saat aku begitu cemburu
Di saat aku menantikan kehadiran jiwamu di sampingku, tapi kau tak pernah datang
Di saat orang-orang menertawakan perasaanku (Kau juga merasakannya, kan?)
Dan kemarin kau tulis tak harus bersama
Itukah epilogmu? (kuharap bukan hanya sekedar salah menerka)
Begitu menghiburku…
Setidaknya kau tak lagi mengingkarinya…
(kuharap bukan hanya sekedar salah merasa)
Padahal tadi aku berjanji takkan menangis
Tapi sekarang…
Dulu kutulis sebuah cerita pendek
Dengan tokoh utama kau dan aku
Aku adalah gelap, jahat, hitam, dan dingin
Sedangkan kau penuh cahaya, baik, putih, dan hangat
Dan endingnya adalah
Gelap dan terang tak mungkin bersatu
Aku ingin menjadi gelap yang mampu berada dalam terang hatimu
Tak perlu kau menyiapkan bilik yang luas
Sedikit saja tak apa
Yang kubutuhkan adalah pengakuan atas keberadaanku
Di situ, di dalam hatimu…
Apa itu cinta?
Makan saja cinta…
Begitu kata mereka yang berpura-pura mendustakannya…
Kalau tak ada cinta, maka choco takkan menangis dalam peluk ayahnya
Kalau tak ada cinta, maka choco takkan menulis puisi-puisinya
Kalau tak ada cinta, maka choco takkan memasang fotonya sebagai wallpaper komputernya – dulu
Aku rindu
Menjadi sangat rindu setelah sampai ke bait ini
Karena aku mempercayainya
Sayang baru sebatas iman dan yakin dalam hati
Belum terwujud dalam lisan dan tingkah tersaji,
Karena aku takut dan malu…