Dari Bethet Kingkong Sampai Rujak Wuni

Gethuk – Didi Kempot


Sore-sore padhang mbulan

(Sore-sore terang bulan)

Ayo kanca padha dolanan

(Ayo teman kita bermain)

Rene-rene bebarengan

(Sini-sini bersama-sama)

Rame-rame, e… dho gegojekan

(Ramai-ramai, e… kita bercanda)

Kae-kae rembulane

(Itu-itu rembulannya)

Yen disawang kok ngawe-awe

(Jika dipandang, kok melambai-lambai)

Koyo-koyo ngelingake

(Seolah-olah mengingatkan)

Kanca kabeh aja turu sore-sore

(Teman semua jangan tidur sore-sore)

 

Gethuk asale saka tela

(Gethuk asalnya dari ketela)

Mata ngantuk iku tambane apa

(Mata ngantuk itu obatnya apa)

Gethuk asale saka tela

(Gethuk asalnya dari ketela)

Yen ra pethuk, atine rada gela

(Jika tak bertemu, hati agak kecewa)

Aja ngono Dhek, aja-aja ngono

(Jangan begitu Dek, jangan-jangan begitu)

Kadhung janji Dhek, aku mengko gela

(Terlanjur janji Dek, aku nanti kecewa)

 

Pesan moral:

  1. Kebersamaan itu indah
  2. Jangan tidur sore-sore
  3. Kita harus menepati janji

(Lagunya bisa didownload di music box di blog ini… )

Sekarang sudah jamannya listrik, anak-anak sudah tidak bermain jlumpet (petak umpet), oyak-oyakan (kejar-kejaran), atau sudhamanda di luar diterangi cahaya bulan lagi, tapi pada nge-game, facebookan, atau nonton tipi di rumah masing-masing…  Hmmm, jadi ingat permainan-permainanku jaman dulu:

1. Bethet Kingkong

Cara permainannya: minimal dua orang. Setiap orang memasang kesepuluh jari tangannya. Kalau dua orang, berarti akan ada 20 jari. Dua orang ini akan ping sut (suit), dengan jari kelingking, jari telunjuk, atau jempolnya –belum jamannya gunting batu kertas – jempol lawan kelingking menang kelingking, jempol lawan telunjuk menang jempol, telunjuk lawan kelingking menang telunjuk. Siapa yang menang akan menyanyikan lagu bethet kingkong sambil menghitung semua jari yang terpasang (senada dengan suku kata lagu yang diucapkan). Nyanyiannya : bethet kingkong legendhut gong, gonge ilang, camcao gula tetes, wong kedawung ilang. Dimana lagu berhenti, di situlah jari yang berhak ditekuk. Yang jarinya ditekuk, dia dapat giliran selanjutnya untuk menyanyi. Siapa yang jarinya tertekuk semuanya terlebih dahulu, dialah yang menang. Permainan yang simpel sekali.

2. Tri Legentri

pic source : my self

Semakin banyak pesertanya akan semakin seru. Lebih asyik jika dilakukan di halaman yang luas dekat kebun atau rumah. Pertama, anak-anak akan membuat sebuah garis membentuk lingkaran di atas tanah dengan ranting atau batu, yang nantinya akan dibagi menjadi sejumlah anak yang ikut bermain. Anak-anak menyediakan batu sejumlah anak yang ikut. Salah satu batu akan berukuran lebih besar dari batu-batu yang lain dan disepakati bersama bahwa batu itulah yang akan dijadikan KODOK. Dalam permainan ini, si KODOK menjadi sesuatu yang dihindari, sebab siapa yang mendapatkannya akan “sial”.

Setelah lingkaran dan batu-betu tersedia, semua peserta akan melakukan hom pim pah. Anak-anak akan berseru “Hom pim pah alaiyung gambreng!” Sambil mengibaskan tangan kanan mereka ke kanan dan ke kiri. Sampai pada akhir kata “gambreng”, anak-anak berhenti mengibaskan tangan dan harus memilih memasang punggung atau telapak tangan. Siapa yang kalah dalam hom pim pah, dialah yang mendapatkan KODOK.

Setelah itu, anak-anak akan mengelilingi lingkaran sambil memegangi batu masing-masing, dengan tangan kanan, termasuk sang pemegang kodok. Selanjutnya mereka akan menyanyi sambil menggeserkan batu (senada dengan lagu) berlawanan arah jarum jam. Lagunya kurang lebih : “tri legentri naga sari ri, riwul owal-awul jenang katul tul, dolan awan-awan ndelok manten ten, titenana besok gedhe dadi apa pa, padha mbako enak mbaku sedhep dep, dengkok orok-orok kaya kodhok!” Sampai pada kata kodok, pergerakan batu pun berhenti Nah, siapa yang mendapat kodhok, dia harus berjongkok sambil menutup mata di dekat batu, sementara teman-teman yang lain berlari-lari mencari tempat-tempat persembunyian. Batu-batu pun telah disusun rapi menggunung. Sembari menutup mata, si anak pemegang kodok yang menjadi penjaga batu ini akan berteriak bertanya, “Wis?” (sudah?) berulangkali. Jika masih ada jawaban, “Durung!” (belum!), maka dia akan tetap menutup matanya. Ketika sudah tidak ada jawaban dan kondisi menjadi sunyi, maka ini pertanda bahwa semua anak telah menemukan tempat persembunyian yang dianggap aman (bisa dibalik pohon, tiarap di balik gundukan tanah/batu, bahkan nangkring di dahan pohon juga boleh). Satu tempat yang terlarang yaitu di dalam rumah. Siapa yang ketahuan bersembunyi di dalam rumah, maka dia akan akan dibilang “kobongan” (kebakaran) dan harus ikut berjaga membantu pemegang KODOK.

Tugas pemegang kodok selanjutnya adalah mencari anak-anak yang bersembunyi sambil tetap menjaga gundukan batu  agar tidak “digajul” (ditendang) oleh salah satu dari mereka yang bersembunyi. Setiap kali pemegang kodok melihat anak yang bersembunyi maka dia akan meneriakkan nama anak yang sudah terlihat dengan menyentuhkan kakinya ke dalam lingkaran. Misalnya, dia melihat Susilo, maka dia akan berteriak, “Susilo, thung!” Oleh karena itu, si pemegang kodok tidak boleh jauh-jauh dari lingkaran. Jika dia sampai lengah, maka akan ada anak yang berlari dengan cepat dari tempat persembunyiannya mendekati lingkaran, lalu menggajul (menendang) gundukan batu. Jika ini sampai terjadi, batu-batu yang berserakan ditata lagi lantas si pemegang kodok harus menutup mata lagi, sementara yang lainnya bersembunyi.

Buah Wuni… Hmmm, kecut tapi seger…

Masih banyak lagi permainan lainnya, misalnya bermain tebakan nama-nama hewan atau nama-nama buah, sepiring-dua-piring, tiga darah, caplok-caplokan (sejenis catur tapi jauh lebih sederhana peraturannya), do-mikado, jamuran, sudhamanda, benthik, bermain cublak-cublak suweng, masak-masakan (memasak dengan bunga, daun, batu bata dan tanah), latihan memasak beneran lalu dimakan bersama-sama, dodol-dodolan (bermain peran menjadi pedagang dan pembeli, uangnya dari daun pisang dan daun teh-tehan), membuat boneka ayah+ibu+anak dari gedebog/pelepah pisang, membuat rujak wuni (rujak dengan bahan biji wuni, cabe merah, dan gula aren dengan tempat rujak dari bambu), sayak-sayakan ( bermain orang-orangan dan baju yang terbuat dari kertas), omah-omahan (membangun rumah dengan tanah gembur yang dibentuk), sawah-sawahan (membuat sawah dari tanah gembur, berlanjut dengan proses menanam padi sampai memanen), yeye (dengan karet gelang yang digandeng panjang), berburu jamur padi/merang/tiram atau buah-buahan di kebunnya orang, jalan-jalan Ramadhan setiap ba’da kuliah subuh+menjelang berbuka sampai dekat Pabrik Kayu Lapis sembari menyalakan ipret (petasan mini), mandi di sungai, membuat asbak/cobek/telepon genggam berantena dari tanah liat, berburu ciplukan (buah liar yang tumbuh di sawah), mencari rumput buat marmutnya temen, Qiu-Qiu, setinan (main gundu), membuat hiasan dari bekas kardus rokok, main layang-layang, membuat tempe-tempean dari bayi buah nangka yang gagal tumbuh, nonton baja hitam rame-rame/kera sakti/ular putih/cilukba/tralala-trilili/Tuyul dan Mbak Yul, nangkring di pohon kopi, bermain ayunan gedebog pisang kering yang diikatkan ke pohon kopi, main putri pangeran + perang-perangan dengan pedang dari kayu, mengkutek kuku dengan pacar air tumbuk atau getah putri malu, membuat bedak dengan biji bunga kembang ashar, membuat dawet dengan daun camcao, menjaring ikan kecil di saluran-saluran sawah, membuat jarum jam dengan bunga tapak dara, membuat balon dari kelopak bunga sepatu, membuat dawet-dawetan bersirup merah/hijau dengan pewarna daun bunga jengger ayam + warna hijau dengan daun pacar air/cincau cina, mencari tebu lalu menghisap airnya yang begitu manis, memetik kopi tetangga yang sudah merah dan rasa daging buahnya manis, bermain “bendul” (bunga petai), mencari keong, menyusuri sungai irigasi, makan pepaya mengkal rame-rame, bermain kwartet/omben/remi/kucingan, nonton Return of the Condor Heroes dengan tokoh favorit Bibi Lung dan Yoko, memetik jambu biji, bermain di gundukan pasir milik tetangga, bermain karambol, main ular tangga, mainan sarung (tiga anak putri masuk ke dalam satu sarung lalu harus berjalan sampai akhirnya terjatuh), mainan egrang, membuat telepon dari kaleng dan benang, bermain yoyo, bermain dakon, bermain bola bekel, bermain gobak sodor, bermain cekeran (dengan kerikil), nyanyi karaokean dan masih banyak lagi permainan-permainan seru lainnya.

Oiya, saat masa kecil saya dulu ada belajar kelompok. Usai pulang sekolah, kami akan berganti baju, lalu pergi ke rumah teman (giliran) lalu mengerjakan PR kami rame-rame sampai selesai… Saat ujian catur wulan tiba, maka adakalanya saya hanya belajar dengan membaca cepat. Kenapa? Karena mau nonton serial Mak Lampir di Indosiar. “Tunggu pembalasanku!” Wkwkwkwkw…Wah, jadi merindukan saat-saat itu. Saat-saat masih duduk di Sekolah Dasar…  I miss you all, friend! Semoga kalian baik-baik saja… ^_^

Oiya, teman-teman punya permainan masa kecil yang masih keinget dan berkesan sampai sekarang? Ayo ceritakan ^_^