Maaf….

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku…

Kata mereka diriku
S’lalu dimanja
Kata mereka diriku
S’lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S’lalu terurai darimu
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi derita-mu
Tangan halus dan suci
T’lah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Telah dia berikan

Oh… bunda ada dan tiada
Dirimu-kan selalu ada di dalam hatiku

Bila Ibu Boleh Memilih

ibu.jpg

Anakku…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar
karena mengandungmu

Maka
ibu akan memilih mengandungmu?
Karena dalam mengandungmu

ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak…

Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak
karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa
tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi
caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit
kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah
satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari
jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita
berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa
sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia

Saat itulah…
Saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan
hati tentang junjungan kita
Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,
atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang
sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu
dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain
tidak bisa rasakan

Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang
rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle
kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

 

www.dudung.net

 

aku cinta

zzzz.jpg

Ibu……………

Apa yang bisa kuberikan untuk mu……
Aku belum bisa menjadi anak yang berbakti, malahan aku selalu merepotkan mu…..
Aku meneleponmu ketikaku membutuhkan uang…. Ah…. Aku malu sekali…..

Oh Ibu….. Nanda mu ini belum bisa berbuat banyak untuk membahagiakan hidupmu (Aku hanya bisa berharap pada Allah Karena hanya Allah sajalah yang selalu bisa membuat hidupmu bahagia…)

Ibu….. pengorbananmu, perjuanganmu ….. oh…. Tidak ada yang dapat menggantikannya dari ibu manapun …. Walaupun kau tidak dikenal dunia, tapi jasamu begitu melegenda dalam hidupku….

Ibu…. Peranmu begitu banyak, kau adalah seorang perawat, seorang doktor, seorang koki, seorang guru, dan seorang sahabat….. Engkau adalah ibu yang serba bisa!!!

Ibu….. Sekarang aku sudah tumbuh besar, dan aku sangat senang sekali ketika engkau mengucapakan : Anakku begitu cantik!!! (Oh.. ibu wajahmu begitu berseri ketika kau mengucapkannya dan aku hanya menunduk tersenyum malu….)

Ibu….. suatu hari, aku pernah membuat dirimu menangis…. Ya Allah teganya diriku…. Hanya karena ibu menyuruhku membantu pekerjaan rumah tapi aku tidak menurut, malah aku duduk bermalas-malasan, dan itu membuat ibu menangis….. (Ya Allah aku begitu menyesal…. Sangat menyesal… ) Aku menghampiri ibu, sambil menangis , akupun mencium keningnya dan memohon maaf untuk tidak mengulangi perbuatanku lagiii…..

Ibu….. kasihmu sehangat mentari, hatimu sebening embun pagi, engkau begitu lapang, kesabaran dan ketabahanmu sangat kuat, keistiqamahanmu untuk menjadi seorang ibu yang baik!! begitu kokoh…… Ibu apa yang bisa aku berikan padamu???? Hanya ucap syukur yang bisa aku katakan padamu, karena Allah telah memberikan ibu yang sehebat seperti dirimu…….

Ibu….. kini engkau sudah menjelang usia tua, tapi wajahmu memancarkan cahaya keteduhan, ku pandangi wajahmu yang sudah mulai keriput, kupeluk dirimu, ibu sudah habis kata ku ucapkan, keikhlasanmu memberikan ketenangan jiwa untuk anak-anakmu…. Ibu, apa yang harus aku berikan untukmu???

Ohhhhhhhhhh ibu, aku ingin membantu dirimu, sekuat tenagaku. Sanggupkah aku ya Allah …………………………………………
Ibu……………. Aku masih sangat membutuhkanmu… Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu …
“Ya Allah, cintai ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ibu … dan jika saatnya nanti ibu Kau panggil, panggillah beliau dalam keadaan khusnul khatimah. Titip ibuku ya Allah”.i love Mom….^_^

by qofi (forum.dudung.net)

Tentang Dia…

ssssssss.jpg

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : “Aku tidak mengerti.” Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.” Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : “Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?”

Ibunya menjawab : “Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawaban sang Ibu.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi.”

“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”

“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.”

“Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”

“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya.”

“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara.”

“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya.”

“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”

“Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya.

“Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah.”

(www.dudung.net)

Lembaran Rindu untuk Sang Bunda

Penulis : Ririn

KotaSantri.com : Dear Bunda,
Kulukis wajahmu dalam rengkuhan rembulan dan seburat cahaya mentari pagi. Sejuk, tenang. Jiwaku menyapa, tentram naluriku bertapa, halus dalam dekuran dan desahan nafasku. Seburat cahaya menundukan kepongahan qalbu. Cahaya terpancar dari sebuah senyum. Senyum penuh cinta kasih sang bunda, menyapa sepiku, membelai asaku. Senyum bunda yang meneguhkan tungkai kakiku sehingga aku masih bertahan dalam asa. Suatu saat senyum itu akan kembali kudapatkan.

Bunda,
Di dalam kelopak matamu kutemukan madu manis membasahi relung hatiku, mengobati berbaga lara dalam jiwa. Di pelopak mata itu ada cahaya asa, mengantarkan aku sebuah harap dan cita. Di pelopak itu mengalir kristal bening, dalam sujud panjang, membasahi relung hatiku yang kering kerontang, gersang. Kristal itu telah melepas dahaga dalam qalbu. Di pelopak itu ada taman cinta dengan bunga-bunga kasih dan kupu-kupu indah dalam menarikan melodi cinta pada sesama. Hingga aku bisa merasa manis dan pahitnya kehidupan ini, di pelopak itu.

Bunda,
Di bibirmu tersungging seulas senyum karismatik. Indah, lebih indah dari permata. Tenang, lebih tenang dari hembusan angin sepoi-sepoi. Hangat, lebih hangat dari mentari pagi. Penuh cinta. Dari bibir itu engkau keluarkan emas yang mampu memacu kuda jihadku. Dari bibir itu engkau keluarkan seburat api, yang membakar keluh kesahku, hangus, menghitam terbang terbawa angin ruh jihad. Aliran kata-katamu tenang, membasahi jiwaku, tertunduk dalam diam. Lalu, kuangkat wajahku, bibir itu tersenyum, lukisan rembulan tercipta di sana. Oase, terbentuk dalam jiwa yang tenang. Sungguh tiada mampu kulukis dengan beribu bahasa, di bibir itu.

Bunda,
Engkau rentangkan tanganmu memeluk gunung, menggapai bulan, menghadang cahaya matahari. Tanganmu telah mengores tinta emas dalam jihadku selama ini. Dengan tanganmu, engkau singkirkan batu kerikil dalam jiwaku yang mampu menyuburkan keluh kesah dalam jiwa. Dengan tanganmu, engkau sibak tabir suram yang selama ini menyelimuti asaku, hingga mampu menjadikan aku kufur. Dengan tanganmu, engkau perah susu manis yang mampu melepas dahagaku akan ghazwul fikri yang hampir saja kulahap habis, hingga mungkin kelak aku menjadi musuh Islam berselimut Islam. Dari tanganmu, engkau bangun benteng teduh namun kokoh, tempat aku melepas lelah tanpa membuat aku jenggah, di tangan itu.

Bunda,
Dengan kedua kakimu, engkau mampu menancapkan pondasi kuat dalam barisan dakwah kami. Engkau tendang semua kerisauan yang menyelimuti hati kami, was-was yang datang bila kaki kecil kami akan melangkah menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini. Engkau mampu berlari, melawan derasnya hujan keluh kesah kami. Berlari, hingga kami tertegun, tertunduk dalam diam berselimut malu. Engkau gendong aku melangkah menemukan sebuah cinta abadi, yang selama ini kudambakan dan ternyata cinta itu amat indah. Kau ajari aku mencintaiNya, mengubur cinta nafsu yang sering kuagungkan.

Bunda,
Saat ini pondasi yang berhasil aku bangun mulai rapuh dimakan zaman dalam dekapan sunyi. Aku lemah, aku hanya bisa menangis.

Bunda,
Seburat senyum milikmu amat kurindukan. Sebait kata cinta kudambakan. Elusan hangat ingin kembali kurasakan. Kegagahan dalam menyingkap onak kuinginkan.

Bunda,
Sebulir kristal bening jatuh, hangat membasahi relung hatiku, membentuk sungai-sungai deras dari mataku, tumpah bersama rindu, pecah bersama hampa, terisak bersama harap.

Bunda,
Salahkah aku bila hujan turun, maka wajah dengan seburat senyum juga hadir menyapaku, menyibak tirai kokoh yang berusaha kubangun dalam puluhan ribu mill yang memisahkan kita, laut dan selat sebagai pembatas. Semua tumpah bersama rintik hujan, desah angin, nyanyian katak.

Bunda,
Kuingin datang tuk memelukmu, menangis dalam aroma keibuanmu, bersama kecup hangat penuh cinta. Kuingn mengecup kedua tanganmu, membasuh kaki tuamu yang telah lelah berjalan. Aku ingin memijatmu sambil kulantunkan ayat cinta dariNya, hingga engkau pulas dengan sesungging senyum. Alunan surat cintaNya yang berhasil kuhapal.

Bunda,
Itu hanya harapan yang belum mampu kuwujudkan. Maafkan ananda, bunda. Maafkan ananda, bunda. Sungguh, ananda rindu padamu. Sungguh perih jiwa ini bila kutahan rasa rindu ini. Tapi bunda, cita-cita ananda belum bisa ananda gapai. Maafkan ananda, bila ananda hanya mampu menangis menahan gejolak jiwa dhaifku. Ananda yakin di seberang sana bunda pun memendam rasa rindu pada ananda. Di seberang sana, bunda tak henti-hentinya berdzikir meminta pada Illahi agar cita ananda, cita bunda dan ayah, berhasil ananda capai.

Bunda,
Ananda akan pulang, untuk melihat pelangi dalam pelopak mata bunda dan lukisan rembulan dalam sebuah senyum.

Bogor, 3 juli 2007 pukul 01.45 WIB.
Di kala rindu datang menyerangku.

http://www.kotasantri.com/beranda.php?aksi=Detail&sid=822

Cinta sejati…

Seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan bertanya kepada dokter,
” Bisa saya melihat bayi saya ?”

Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang
membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.
Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela
rumah sakit.
Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga !

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi
seorang anak itu bekerja dengan sempurna.
Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya
di pelukan sang ibu yang menangis.
Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.

Anak lelaki itu terisak-isak berkata,
” Ma, seorang anak laki-laki besar mengejek saya.
Katanya, saya ini makhluk aneh.”

Anak lelaki itu tumbuh dewasa.
Ia cukup tampan dengan cacatnya.
Ia pun disukai teman-teman sekolahnya.
Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.
Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.

Ibunya mengingatkan,
” Bukankah nantinya kamu akan bergaul dengan remaja-remaja lain ?”

Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa
mencangkokkan telinga untuknya.

Dokter itu berkata,
” Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.
Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya.”

Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan
telinga dan mendonorkannya pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu.
Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya.

Sang ayah berkata,
” Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan
telinganya padamu.
Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.
Namun, semua ini sangatlah rahasia.”

Operasi berjalan dengan sukses.
Seorang lelaki baru pun lahirlah.
Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan.

Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.

Ia menemui ayahnya,
” Pa, saya harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua
pada saya.
Oranf itu telah berbuat sesuatu yang besar namun saya sama sekali belum
membalas kebaikannya. “

Ayahnya menjawab,
” Papa yakin kamu takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah
memberikan telinga itu.”

Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
” Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagi kamu untuk mengetahui semua
rahasia ini.”

Tahun berganti tahun.
Kedua orangtua itu tetap menyimpan rahasia.
Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.

Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya
yang baru saja meninggal.
Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang
terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak
memiliki telinga.

Sang ayah berbisik,
” Mama kamu pernah berkata bahwa Mama senang sekali bisa memanjangkan
rambutnya.
Dan tak seorang pun menyadari bahwa Mama telah kehilangan sedikit
kecantikannya bukan ?”

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam
batin.
Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun
pada apa yang tidak dapat terlihat.
Cinta yang sejati tidak terletak pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan
dan diketahui, namun pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan namun tidak
diketahui.

(dari email teman…)